5 Comeback Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola: La Remontada sampai Keajaiban Istanbul
Comeback terbesar dalam sejarah sepak bola selalu punya satu kesamaan: di satu titik, semua orang — komentator, suporter, bahkan para pemainnya sendiri — sudah menganggap pertandingan itu selesai. Lalu sepak bola melakukan hal yang paling ia sukai: mempermalukan semua orang yang terlalu cepat menyimpulkan. Berikut lima kebangkitan paling mustahil yang pernah tercatat, semuanya terverifikasi dari data resmi.
| # | Laga | Tahun | Tertinggal | Hasil akhir |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Barcelona vs PSG | 2017 | 0-4 (leg pertama) | 6-1, agregat 6-5 |
| 2 | Liverpool vs AC Milan (final) | 2005 | 0-3 (babak pertama) | 3-3, menang adu penalti |
| 3 | Liverpool vs Barcelona | 2019 | 0-3 (leg pertama) | 4-0, agregat 4-3 |
| 4 | AS Roma vs Barcelona | 2018 | 1-4 (leg pertama) | 3-0, agregat 4-4 (lolos gol tandang) |
| 5 | Newcastle vs Arsenal | 2011 | 0-4 (menit ke-26) | 4-4 |
1. Barcelona 6-1 PSG (2017) — La Remontada
Ini yang nomor satu dan tidak bisa diganggu gugat. Setelah dibantai 0-4 di Paris pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Barcelona butuh keajaiban di Camp Nou — dan mereka benar-benar menciptakannya. Luis Suarez mencetak gol di menit ke-3, gol bunuh diri Layvin Kurzawa dan penalti Lionel Messi membuat skor 3-0 saat jeda. Harapan sempat padam ketika Edinson Cavani mencetak gol tandang untuk PSG. Tapi dua gol cepat Neymar — salah satunya penalti kontroversial — membuat agregat imbang 5-5, sebelum Sergi Roberto menyambut umpan silang Neymar di menit ke-95 dan meledakkan stadion. Barcelona menjadi satu-satunya tim dalam sejarah kompetisi Eropa yang pernah membalikkan defisit empat gol dari leg pertama.
2. Liverpool 3-3 AC Milan (2005) — Keajaiban Istanbul
Final Liga Champions di Istanbul ini mungkin comeback paling dramatis yang pernah dimainkan dalam satu malam. AC Milan unggul 3-0 di babak pertama lewat Paolo Maldini dan dua gol Hernan Crespo — laga terlihat selesai. Lalu enam menit gila terjadi: Steven Gerrard (54'), Vladimir Smicer (56'), dan Xabi Alonso (60', dari rebound penaltinya sendiri) menyamakan skor menjadi 3-3. Jerzy Dudek kemudian melakukan penyelamatan ganda luar biasa dari Andriy Shevchenko di masa injury time babak tambahan, sebelum Liverpool menang adu penalti 3-2 dan mengangkat trofi.
3. Liverpool 4-0 Barcelona (2019) — Malam Tanpa Bintang
Dua tahun setelah La Remontada, Barcelona gantian jadi korban. Kalah 0-3 di Camp Nou pada leg pertama semifinal, Liverpool tampil di Anfield tanpa dua penyerang utamanya yang cedera: Mohamed Salah dan Roberto Firmino. Tak ada yang memberi mereka peluang. Divock Origi membuka skor di menit ke-7, Georginio Wijnaldum mencetak dua gol dalam dua menit (54' dan 56'), lalu Origi menuntaskan malam lewat tendangan sudut cepat Trent Alexander-Arnold di menit ke-79 — momen yang kini melegenda. Agregat 4-3, Liverpool melaju ke final dan akhirnya juara.
4. AS Roma 3-0 Barcelona (2018) — Gol Tandang yang Mematikan
Setahun sebelum tragedi Anfield, Barcelona sudah lebih dulu dipermalukan Roma. Kalah 1-4 di Camp Nou pada leg pertama perempat final, Roma menang 3-0 di Olimpico lewat gol Edin Dzeko, penalti Daniele De Rossi, dan sundulan Kostas Manolas di menit ke-82. Agregat imbang 4-4, Roma lolos berkat aturan gol tandang — aturan yang ironisnya kini sudah dihapus UEFA. Barcelona tersingkir dengan cara yang sama dua musim beruntun oleh tim Italia dan Inggris.
5. Newcastle 4-4 Arsenal (2011) — Rekor yang Diakui Guinness
Satu-satunya comeback dalam daftar ini yang terjadi di liga domestik — dan saking mustahilnya sampai masuk buku rekor dunia. Arsenal unggul 4-0 di St James' Park hanya dalam 26 menit lewat Theo Walcott, Johan Djourou, dan dua gol Robin van Persie. Titik baliknya: kartu merah Abou Diaby di awal babak kedua. Joey Barton mencetak dua penalti (68' dan 83') mengapit gol Leon Best (75'), sebelum Cheick Tiote melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti di menit ke-87 untuk menyamakan skor. Guinness World Records mencatatnya sebagai defisit terbesar yang pernah dikejar sebuah tim di era Premier League — empat gol dalam 22 menit terakhir.
Kenapa Comeback Sebesar Ini Nyaris Mustahil?
Datanya bicara blak-blakan. Di seluruh sejarah Liga Champions, hanya satu kali sebuah tim membalikkan defisit empat gol dari leg pertama — Barcelona 2017. Defisit tiga gol pun hanya segelintir kali berhasil dibalikkan dalam format dua leg. Di Premier League, Newcastle 2011 masih satu-satunya tim yang selamat dari ketertinggalan empat gol. Sepak bola punya memori yang selektif: kita mengingat comeback-nya karena momen itu langka, tapi di balik setiap kisah heroik ada ratusan leg kedua dan babak kedua yang berakhir persis seperti prediksi semua orang. Justru di situlah letak magisnya — ketika probabilitas berkata tidak, tapi lapangan berkata lain.
Kesimpulan
Lima comeback terbesar dalam sejarah sepak bola ini membuktikan satu hal: dalam sepak bola, "selesai" hanyalah opini sampai wasit meniup peluit panjang. Dari La Remontada yang memecahkan rekor Eropa, keajaiban enam menit di Istanbul, sampai voli Tiote yang masuk buku rekor dunia — semuanya lahir dari tim yang menolak berhenti percaya. Dan kalau kamu fans Barcelona... mungkin bagian artikel ini paling aman dilewati saja.
Disclaimer: Prediksi ini adalah analisis berbasis data, bukan jaminan hasil. Sepak bola selalu punya faktor kejutan.
Sumber data
- FotMob — rekor comeback Liga Champions: Barcelona 6-1 PSG (2017), Liverpool 4-0 Barcelona (2019), Roma 3-0 Barcelona (2018), Deportivo 4-0 Milan (2004)
- Guinness World Records — rekor comeback terbesar Premier League: Newcastle 4-4 Arsenal, 5 Februari 2011
Pertanyaan umum
Apa comeback terbesar dalam sejarah Liga Champions?
Barcelona 6-1 PSG pada 2017. Barcelona menjadi satu-satunya tim dalam sejarah kompetisi Eropa yang membalikkan defisit empat gol dari leg pertama (kalah 0-4, menang 6-1, agregat 6-5).
Tim apa yang pernah comeback dari tertinggal 0-4 di Premier League?
Newcastle United. Pada 5 Februari 2011 mereka tertinggal 0-4 dari Arsenal dalam 26 menit lalu menyamakan skor menjadi 4-4 lewat dua penalti Joey Barton, gol Leon Best, dan voli Cheick Tiote. Guinness World Records mencatatnya sebagai comeback terbesar di era Premier League.
Kenapa comeback besar sangat jarang terjadi?
Datanya jelas: di seluruh sejarah Liga Champions, defisit empat gol dari leg pertama hanya sekali berhasil dibalikkan. Di Premier League, hanya Newcastle yang pernah selamat dari defisit empat gol. Sebagian besar laga yang terlihat 'selesai' memang berakhir sesuai prediksi — itulah yang membuat pengecualiannya legendaris.
Berapa kali Barcelona jadi korban comeback besar?
Ironisnya cukup sering. Setelah mencatatkan La Remontada atas PSG (2017), Barcelona gantian disingkirkan AS Roma 3-0 (2018) dan Liverpool 4-0 (2019) setelah unggul telak di leg pertama.
Dapatkan prediksi berbasis data untuk setiap laga.
Scorelabs Engine mengubah data pertandingan — performa, head-to-head, kualitas peluang — menjadi prediksi skor yang jelas dengan rekam jejak transparan. Dibuat untuk fans yang membaca laga lewat angka, bukan firasat.
Buka Tool PrediksiPrediksi lainnya
Prediksi Persib vs Cong Viettel 14 Okt 2026
Prediksi Persib vs The Cong-Viettel, ACL Two 14 Okt 2026 19.15 WIB: analisis H2H, tren performa, line-up & prediksi skor Scorelabs Engine.
Prediksi Skor Malam Ini 14 Oktober 2026: Man City vs PSG, Roma vs Real Madrid
Prediksi skor malam ini 14 Okt 2026: Man City vs PSG, Roma vs Madrid, LASK vs Liverpool, Feyenoord vs Como. H2H & prediksi Scorelabs Engine.